Bagian 1: Pertemuan yang Senyap
Sudah berjam-jam Michelle berdiri di balik meja kasir toko kaset itu. Seragam abu-abu dan topi hitamnya terasa sedikit gerah, namun dia tetap bertahan. Di sela-sela waktu senggangnya, jemarinya lincah menari di atas sebuah jurnal pribadi, mencatat remah-remah pemikiran yang melintas di kepalanya.
Langkah kaki seseorang memecah keheningan. Seorang pemuda berjaket biru dengan garis merah di lengannya berjalan menuju pemutar CD uji coba di depan meja kasir. Michelle menghentikan penanya, menatap pemuda itu dari sudut mata.
Pemuda itu memakai earphone, lalu memejamkan mata, larut dalam alunan musik.
Michelle tertegun. Di bawah temaram lampu mal, wajah pemuda itu tampak seolah memancarkan cahaya tersendiri. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan pembawaannya begitu tenang.
“Pasti dia memiliki kehidupan yang sempurna,” bisik Michelle dalam hati.
Ketika pemuda itu membuka earphone dan melangkah ke meja kasir, Michelle buru-buru menunduk, berpura-pura sibuk dengan jurnalnya.
"Rp40.000, Kak," ucap Michelle lirih setelah memindai kode batang kaset tersebut.
Pemuda itu menyerahkan uang lima puluh ribu rupiah. Ia sempat menatap Michelle dengan alis berkerut, lalu tersenyum kecil.
"Terima kasih," ujarnya sebelum pergi.
Michelle terpaku menatapnya hingga hilang di keramaian.
"Jangan terlalu dalam memandang, nanti patah hati," goda Kevin, pemilik toko kaset.
Michelle hanya tersenyum kecut.
Itulah hidup Michelle Regina. Di usia 17 tahun, ia sudah kehilangan ibunya sejak kecil, hidup dalam kekerasan keluarga, hingga akhirnya melarikan diri dan bertahan hidup sendiri di kontrakan kecil.
Bagian 2: Malam Kelam di Gang Sempit
Suatu malam, Michelle pulang lebih cepat dari biasanya dan singgah ke pasar malam. Namun kenangan ibunya membuatnya kembali rapuh. Ia pun memutuskan pulang.
Di tengah perjalanan, suara rem mobil keras terdengar. Sekelompok pria kekar menyeret seorang pemuda bersweater abu-abu.
Michelle mencoba menghindar, namun salah satu pria menabraknya.
Pemuda yang diseret itu berteriak:
“Lepaskan aku!”
Michelle menatapnya dan terkejut.
Itu dia—pemuda dari toko kaset.
“Michelle! Tolong aku!” teriaknya.
Namun sebelum bisa bereaksi, rambut Michelle dijambak keras.
“Anggap kamu tidak melihat apa pun malam ini,” ancam pria itu sebelum melemparkannya ke jalan.
DUNIA HITAM.
Bagian 3: Pertemuan Dua Dimensi
“Michelle… bangun…”
Suara itu milik Finda, tetangganya.
Setelah sadar, Michelle menemukan dirinya terluka. Ia lalu menceritakan kejadian itu.
Namun hidupnya kembali kacau ketika ayahnya tiba di kontrakan.
Panik, Michelle melarikan diri.
Di warung, berita televisi menampilkan pemuda hilang bernama William Kim.
Michelle terpaku.
Di tengah kebingungan, ia pergi ke makam ibunya.
Namun di sana, sesuatu yang mustahil terjadi…
“Bantu aku…”
William muncul di hadapannya—seperti bayangan.
Ia tidak terlihat oleh orang lain.
William menjelaskan bahwa ia tidak bisa ditemukan oleh siapa pun.
Michelle awalnya menolak, namun akhirnya luluh setelah melihat penderitaan ibu William di berita.
“Aku akan membantumu,” ucap Michelle.
Bagian 4: Menelusuri Jejak Kelam
Michelle dan William mulai bekerja sama.
William mengingat lokasi terakhirnya: gedung tua dekat danau.
Di sana, mereka menemukan ponselnya dan bukti mencurigakan.
Namun mereka ketahuan.
Michelle hampir tertangkap, tetapi berhasil kabur dengan pistol yang ia temukan.
Mereka melarikan diri.
Bagian 5: Konfrontasi di Tepi Tebing
Hujan turun deras.
William mulai menghilang perlahan.
“Michelle… aku menghilang…”
Namun sebelum mereka bisa bertindak, Michelle tertangkap.
Ia dilempar ke lubang bawah tanah, dan di sana ia menemukan tubuh William yang asli—sekarat.
Ia berhasil keluar dan menuju tebing.
Di sana, ia berhadapan dengan Kevin.
“Kenapa kamu melakukan ini?” tanya Michelle.
Kevin tersenyum dingin.
“Aku anak yang dibuang. Aku ingin dia merasakan kehilangan.”
Pertarungan terjadi.
DOR! DOR!
Michelle terluka di perut.
Kevin jatuh ke jurang.
Michelle dengan sisa tenaga menelepon ibu William dan memberi lokasi.
“Dia… di tebing…”
Bagian 6: Fajar Baru yang Hangat
Michelle terbangun di rumah sakit.
Ayahnya menangis dan meminta maaf.
Ia juga menjelaskan kebenaran tentang ibu tiri dan adiknya.
Michelle akhirnya memahami semuanya.
“William…?” tanyanya.
“Dia selamat.”
Epilog: Setahun Kemudian
Michelle telah kembali ke rumahnya.
Keluarganya perlahan pulih.
Suatu hari, sebuah mobil berhenti di depan rumah.
William keluar.
Keduanya saling menatap.
Air mata mengalir.
Tanpa kata, William memeluk Michelle.
Kali ini nyata.
“Aku kembali,” bisiknya.
Michelle tersenyum dalam tangisnya.
Langit sore menjadi saksi bahwa luka akhirnya berubah menjadi cahaya.