Sebagai ibu rumah tangga, aku menghabiskan hari-hariku merawat anak dan menjaga rumah. Aku tak pernah membayangkan bahwa seseorang dari keluargaku sendiri akan menjadi penyebab mimpi buruk yang menghancurkan rasa aman dalam hidupku.
Suatu siang aku menerima telepon yang mengabarkan bahwa aku memenangkan hadiah sebuah mobil. Awalnya aku curiga, tetapi penelepon meyakinkanku bahwa tidak ada biaya apa pun yang harus dibayarkan. Karena tampak meyakinkan, aku akhirnya bersedia melihat kendaraan tersebut.
Keputusan itu menjadi awal dari tragedi yang tak akan pernah kulupakan.
Saat mencoba mobil tersebut, aku kehilangan kesadaran setelah diduga dibius. Ketika terbangun, aku mendapati diriku berada di tempat asing dalam kondisi terikat. Rasa takut dan panik menyelimuti pikiranku.
Yang paling mengejutkan, orang yang berada di hadapanku adalah Arman, adik iparku sendiri. Selama ini aku memang merasa tidak nyaman dengan sikapnya yang sering melewati batas, tetapi aku tidak pernah menyangka ia mampu merencanakan tindakan sekejam itu.
Aku memohon agar dilepaskan, mengingatkan bahwa kami adalah keluarga. Namun semua permohonanku diabaikan. Ia bahkan menggunakan orang lain untuk membantunya melakukan kejahatan tersebut. Aku mengalami kekerasan seksual dan penghinaan yang meninggalkan luka mendalam, baik secara fisik maupun psikologis.
Yang membuatku semakin hancur, seluruh kejadian itu direkam untuk dijadikan alat ancaman. Aku pulang ke rumah dengan tubuh lemah dan hati yang remuk. Berkali-kali aku mandi, seolah berharap seluruh kejadian mengerikan itu dapat ikut hanyut bersama air. Namun rasa takut, malu, dan trauma tetap melekat.
Beberapa hari kemudian, ancaman benar-benar datang. Sebuah rekaman dikirimkan kepadaku sebagai bentuk intimidasi agar aku tetap diam dan menuruti keinginannya di kemudian hari.
Sejak saat itu hidupku berubah. Aku hidup dalam ketakutan, dihantui trauma, dan kehilangan rasa percaya kepada orang-orang di sekitarku. Yang paling menyakitkan bukan hanya kejahatan yang kualami, tetapi kenyataan bahwa pelakunya adalah seseorang yang seharusnya menjadi bagian dari keluargaku sendiri.
Kini aku menyadari bahwa korban kekerasan seksual tidak seharusnya memikul rasa malu. Yang seharusnya merasa malu adalah pelaku. Tidak ada seorang pun yang pantas mengalami perlakuan seperti yang kualami.
Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa kejahatan bisa datang dari orang yang paling dekat sekalipun. Jangan ragu mencari bantuan, melapor kepada pihak berwenang, dan mendapatkan pendampingan psikologis apabila mengalami atau menyaksikan kekerasan seksual. Diam hanya akan memberi ruang bagi pelaku untuk mengulangi perbuatannya kepada korban lain.